Rabu, 11 Februari 2015

DIA DAN DIAM

Dia seperti manusia yang tak tau arah tujuan hidupnya. Yang ia tau ia hanya harus terus diam dan berjalan. Tanpa senyuman. Tanpa kata-kata. Dia seperti bingung menentukan arah. Meskipun pada akhirnya dia terluka karena batu yang menghadangnya, ia akan terus dan tetap diam.

Dia tidak memiliki rasa. Sedikit pun kebahagiaan mungkin belum pernah singgah. Sejatinya dia tak tau arah jalan. Dia seperti seorang yang buta namun tetap berjalan tanpa rasa letih.

Peta kehidupan yang pernah ia pegang telah hancur. Beribu-ribu kali dia mencoba untuk menemukan arah jalan, namun dia seolah lupa bahwa ia hanya sendiri. Dia tidak pernah mau mengenal siapa pun dalam hidupnya. Yang dia kenal hanya dirinya sendiri. Dia rapuh. Dia menangis. Tapi dia tetap diam.

Diam yang seolah membawanya terus berjalan. Jika sesekali dia melihat rambu, dia hanya akan diam dan berhenti berjalan. Dia takkan mau menoleh ke belakang. Dia hanya akan menghadap ke depan. Ke semua arah yang pernah dia lihat.

Ketika ia berjalan dan menemui sebuah persimpangan. Dia akan terdiam sejenak. Bukan untuk berjalan mundur dan menanyakan arah. Namun dia hanya diam dan menatap seorang yang lewat di hadapannya. Sampai pada akhirnya dia lelah dan memutuskan untuk terus berjalan mengambil arah kanan.

Sesekali aku melihatnya. Namun ia hanya diam. Dia tidak mengenal siapa pun. Dia hanya akan bercerita kepada malam. Bukan kepada siang yang selalu menggembar-gemborkan hinaan. Dia tau bahwa malam akan terus bersamanya dalam diam.