MUSIM PANAS DIBAWAH REMBULAN
Musim panas tiba di wilayah
ini, tepat di desa terpencil dari pelosok sudut kota ini. Lembah dan ladang
menjadi pemandangan unik karna tanahnya yang mulai mengering dan pecah.
Pohon-pohon yang ditelanjangi secara paksa karna dedaunan yang seolah lelah
menjadi penghias kemewahannya.
Aku kembali menatap
deretan rumput-rumput liar di serambi belakang rumah. Seperti melodi korea yang
banyak menyimpan kesan-kesan menyedihkan. Ah,
perasaan apa ini?.
Menatap
rumput lalu mengingat-ingat melodi kesedihan yang setelahnya aku kan menangis.
Aku benci adegan memalukan seperti ini.
Seperti saat-saat
dimana Bayu memagut lembut bibirku ketika kami berdansa di sebuah acara yang
bertajuk farewell party dance yang
diadakan teman sekantor nya karna hari itu hari pertunangan mereka. Saat-saat
dimana aku seolah kehilangan kendali ku ketika Bayu terus-menerus meremas manja
punggung ku. Aku terdiam menikmati sentuhannya.
Ah,
kenapa aku kembali mengingatnya?.
Bergegas aku menuju
kamar kecilku tepat di depan ruang tamu ayah. Ya, di ruang ini pula ayah selalu
bercengkrama dengan mahluk-mahluk yang sama sekali tidak aku kenal. Tak terlalu
mewah memang, tapi cukup untuk menyimpan keluh kesah ku selama ini. Kali ini
aku hanya ingin menyandarkan tubuhku tepat di lantai samping ranjang tempat tidur
yang beraroma khas buah jeruk. Seperti inilah aku, seharum dan semewah apapun
parfum yang dijual di mall-mall besar aku tetap memilih harum khas buah jeruk.
Karna apa?
Karna parfum itu
mengingatkan aku pada sosok yang ku temui di acara festival lampion disalah satu kota di negaraku. Ya, fotonya kini
hanya berjajar rapi di deretan foto-foto teman esemaku disamping ranjang tempat tidur yang beralaskan spray coklat
muda. Sangat menakjubkan. Musim panas cukup membuat semua kenangan tentang
sosok itu lenyap. Jangan ditanyakan mengapa, mungkin ia terlalu bodoh untuk
menyembunyikan kelicikannya di hari pertunangan kami. Ah, apa-apaan
ini? Kami ? tidak ada kata kami disini.
Dan apa itu hari
pertunangan?. Akan lebih bagus bila hari itu disebut sebagai hari kematian. Ini
bukan masalah aku mencintainya atau tidak, sudah jelas bahwa aku sangat
mencintainya. Tapi entah firasat apa yang berkecamuk dihatiku, dia tak ubahnya
bajingan.
Tak secuil pun kenangan
indah yang masih melekat di otak ku meskipun aku juga tau, pria itu yang
berhasil membawa ku pada kenikmatan cinta yang sesungguhnya. Menyentuhnya
seolah memutar kenangan buruk yang sudah tertata rapi 1 tahun yang lalu. Dan
akan lebih baik bila dia pergi dari hadapanku. Aku berusaha berdiri tegap
menuju jendela kamar ini. Di sudut ruangan tepat disebelah almari pakaian dalam
ku. Petang semakin merangkul rumah ini.
Begitu erat. Hembusan angin sepenuhnya menguasai. Dingin. Sepertinya musim
panas akan berakhir. Sesekali aku
menatap bulan. Teringat bagaimana Bayu memanjakan tubuh mungil ku. Dia cukup
terlatih untuk melakukan itu. Dan satu yang aku suka darinya, dia tau bagaimana
cara yang tepat untuk mencintai ku.
Sial,
kenapa kau mengingatnya lagi?
Aku meraih ponsel yang
sedari tadi tergelak di ranjang tempat tidur ku;bergetar. Memang sengaja tidak
ku beri nada. Mengingat seharian ini aku menemani temanku Rima untuk check up di sebuah rumah sakit di daerah
kota ini. Rima. Benar, nama gadis itu Rima, dia menyimpan banyak kenangan buruk
di hidupnya. Ayahnya pergi entah kemana
setelah ibunya melahirkan dirinya. Lagi-lagi cerita tentang pria brengsek. Juga
tunangannya yang gila akan tubuh wanita. Sudah berulang kali Rima mendapati
foto-foto prianya meniduri beberapa wanita di apartemen pribadinya yang bahkan
Rima pun tidak mengetahui siapa pengirim foto-foto itu.
Aku sudah berulang kali
mengatakan untuk menjauhi pria brengsek itu. Namun apa yang aku dapat, jawaban
Rima masih sama seperti 1 tahun lalu “aku mencintainya dan tidak mungkin aku
meninggalkan cintaku”. Basi. Itulah yang tidak ku sukai. Kenapa semua orang
mendewakan cinta? Dan kenapa pria brengsek itu meminang gadis lugu seperti
Rima? Mungkinkah ia hanya menginginkan kemolekan tubuh Rima?. Ya, Rima memang
tak secantik gadis di kota-kota besar yang selalu mengenakan rok mini ataupun hot pants dengan setelan lengan panjang
atau sekadar baju yang hanya menutup payudara tubuhnya saja, semacam bikini.
Aku tidak ingat kapan
terakhir kali bertemu dengan pria brengsek itu. Wajahnya yang pucat pasi serta
tubuhnya yang tegap membuat ia terlihat menarik. Cukup manis memang. Pertemuan
mereka berawal dari kecerobohan Rima mengaplikasikan akun jejaring sosial media
miliknya. Dia selalu seperti itu. Terlalu mendewakan jejaring social. Apapun
yang ia lakukan ia merasa orang lain harus mengetahuinya. Ah, ini sungguh
kekanak-kanakan ku bilang. Bagaimana bisa ia mempercayai lelaki yang baru
dikenalnya 2 hari menjadi pendamping hidupnya? Seperti alur cerita-cerita
pendek remaja saja.
Sial,
kenapa aku melamunkan pria bajingan itu? Oh Tuhan, ada apa ini?.
Aku cukup lelah
mengingat-ingat sebagian kecil memori tentang mereka, mengingat sedari tadi aku
melamunkan hal itu dibawah cahaya rembulan yang temaram. Cukup membosankan.
Perlahan ku jatuhkan
tubuhku menyita semua keheningan yang ku ciptakan sendiri. Pandanganku mulai
kosong, terasa berat di pelupuk mata. Bulu mata seolah berubah menjadi
monster-monster kecil yang menarik halus kelopak ku. Memaksa untuk cepat
terlelap di malam yang panjang ini. Hembusan angin terus menerus menjajah
tubuhku. Terasa dingin. Jendela di sudut ruang itu ku biarkan terbuka, karna
tak ku ijinkan seorangpun mengambil rembulanku.
Berat. Mataku mulai
naik turun. Samar-samar rembulan sudah mulai menghilang. Hanya kegelapan yang
menguasai alam bawah sadar ku. Binar-binar kehidupan berhenti cukup didetik
ini. Masa telah berganti musim. Dunia akan segera menorah cerita tepat di bulan
purnama.
“jangan lakukan itu
ayah, jangan…” teriak ku memohon dan berlutut didepan ayah. Hanya berjarak ±2
meter dari tubuh ayah yang berdiri di hadapanku.
Ayah hanya diam. Seolah
ia tak memperdulikan suaraku. Aku tau ini bukanlah ayah yang sesungguhnya. Dia
tidak mungkin secepat itu ingin meninggalkan aku setelah seminggu yang lalu ibu
pergi untuk memenuhi panggilan Tuhan di Surga.
“Mungkinkah seseorang
akan tetap tinggal bila ia terus saja mencoba untuk melupakan kenangan-kenangan
yang hanya membuatnya seperti mayat hidup?”
Aku tidak tau apa makna
dibalik ucapan ayah. Yang aku tau ayah ingin pergi dariku. Ada apa ini? Musim
panas macam apa ini?.
“Ayah, tidakkah kau
ingat saat aku jatuh dan kau begitu tergesa-gesa menyusul ku lalu membantuku
untuk tetap bangkit dan berkata bahwa dunia itu indah. Lalu siapa yang akan
melakukan hal yang sama ketika aku kembali terjatuh? Sebegitu cepat kah ayah
ingin pergi?...”.
Aku menitikkan air mata
yang tak bisa lagi untuk ku bendung. Aku tidak menyangka bahwa ayah akan
serapuh ini ketika ibu meninggalkannya.
“Jangan pergi ayah.
Lita mohon…”
Aku masih saja menangis
dan ayah pergi tanpa sedikitpun menorah kepadaku. Aku tau ibu sangat berarti
untuk ayah, tapi apalagi ini?. Aku begitu bodoh karna dengan mudah aku
membiarkan ayah pergi dari sisi ku. Langit mulai menggelap, dan aku masih saja
disini. Mengharapkan kedatangan ayah. Mendung dan angin seolah tau perasaanku.
Hancur dan kandas dalam lintasan kisah yang menyedihkan.
“Aku benci kehidupan
seperti ini…. “ aku berteriak. Aku lelah. Aku benci drama dalam drama
kehidupan.
Jantungku makin
berdetak kencang, dadaku sesak dan nafas yang semakin tak berirama. Air mata
tumpah ruah.
“Ayah pergi, ayah telah
pergi dan aku…” seakan tak sanggup untuk
menyelesaikan semua ini. “Ayah….” Aku terus saja menjerit. Aku menginginkan
ayah kembali.
Berkecamuk lara juga
kecewa kini menguasai hatiku. Aku terlalu muda untuk semua ini. Oh Tuhan, apa
lagi yang kau berikan setelah pertunangan ku hancur musim panas kemarin?.
“hey, bangun Lita”
Suara Rima seolah
mengajak ku untuk mencium harum aroma strawberry ditubuhnya.
“Apa yang terjadi?”
tanyanya dengan nada yang seolah benar-benar mengkhawatirkan ku.
Aku berlari tanpa
sepatah kata pun. Meninggalkan Rima duduk dengan rasa penasarannya di ranjang
tempat tidurku.
“Ayah…” sapa ku manja.
Ayah tersenyum dan
sesegera mungkin memeluk tubuhnya yang tinggi tegap. “Aku tau, ayah tidak
mungkin meninggalkan ku. Dan ijinka aku untuk melepas semua lelah ku di pelukan
mu ayah”
Ayah hanya tersenyum
serasa membalas pelukan ku.
(Tsintaini Yaqutata)